Monday, July 11, 2016

Makanan pasien stroke dengan kolesterol naik dan diabetes

Makanan yang sehat dan tentunya halal sangat penting dalam mengkontrol faktor risiko stroke.

Pasien stroke yang memiliki kolesterol tinggi perlu mengurangi makanan ber kolesterol
dan menambah konsumsi sayur dan buah.

Buah bisa berupa apel, jeruk, wortel, anggur dan lain lain.

Namun untuk pasien stroke dengan kencing manis perlu takaran khusus

Makanan sebaiknya mengandung tinggi serat, rendah lemak serta membatasi gula.
Total kebutuhan kalori makanan dihitung berdasarkan berat badan pasien stroke.
Sayur merupakan sumber serat yang penting
Sumber protein dapat diberikan dari ikan, ayam
Tetap kontrol kadar gula secara rutin.
Dokter biasanya memeriksakan kadar gula puasa, 2 jam setelah makan, gula acak dan A1C.
Jika pasien merasa lapar, pemberian sayur, sop rendah kalori dapat diberikan.
Rutin periksa mata setiap dua tahun jika perlu.
Biasanya juga diperiksa kencing dan saraf perasa pada kaki
Hindari pemanis buatan
Minyak seperti olive oil dapat digunakan dalam kadar tidak berlebih
Batasi garam maksimal 5 gram perhari (sekitar 1 sendok teh). Jauhkan garam botol dari meja makan

Poster pencegahan stroke


Tuesday, April 7, 2015

Contoh cara memposisikan pasien lumpuh kiri


Tuesday, May 28, 2013

Gangguan menelan pasien stroke

Sekitar separuh pasien stroke mengalami kesulitan menelan saat di rumahsakit. Kesulitan menelan disebutkan terkait dengan tingginya kasus kematian dan buruknya outcome pasien stroke, termasuk tinggi risiko mengalami penumoni, dehidrasi dan malnutrisi.

Penyebab kesulitan menelan (dikenal dengan istilah disfagia) pada pasien stroke dapat disebabkan beberapa hal, diantaranya:
- Kelemahan pada tahap oral. Pada pasien dengan kelemahan atau ganguan koordinasi wajah atau lidahakan menalami kesulitan dalam mengolah makanan dalam mulut, maupun merubah bentuk makanan.
- Kegagalan penutupan laring yang akan menyebabkan aspirasi
- Berkurangnya "peristaltik" faring

Ada beberapa cara mengenali disfagia pada pasien stroke, pertama pada beberapa kasus stroke batang otak dan stroke bilateral otak. Pada kedua jenis stroke tersebut, pasien sangat berisiko mengalami disfagia. Kedua, jika pasien mengalami sesak, batuk atau perubahan suara setelah makan atau minum, berhati-hatilah terhadap kemungkinan aspirasi. Dokter neurolog biasanya memeriksa saraf pasien dan refleks muntah pada pasien. Bila sangat diperlukan, akan dilanjutkan dengan konsultasi untuk pemeriksaan FEES (Fibreoptic Endoscopic Evaluation of Swallowing).

Sunday, February 10, 2013

Gangguan kencing pasien stroke

Gangguan kencing paska stroke merupakan hal yang sering dialami pasien stroke, Brittain dkk melaporkan bahwa sekitar 32-79 persen pasien stroke mengalami inkontinensi saat masuk rumahsakit
Brittain dan rekannya mencatat bahwa dalam berbagai, inkontinensia studi pada masuk rumah sakit, dan 25-28 persennya masih mengalami inkontinensia urin saat pasien keluar rumahsakit.

 

Tuesday, January 15, 2013

Strategi Penanggulangan Stroke

Sekurang-kurangnya ada 5 komponen dalam strategi penanggulangan stroke. Kelima komponen tersebut adalah:
1. Promotif. Upaya ini bertujuan untuk menurunkan angka kejadian stroke dengan mencegah peningkatan faktor risiko stroke di masyarakat. Termasuk upaya ini adalah kampanye atau penyuluhan tentang gaya hidup sehat agar terhindar dari berbagai faktor risiko stroke, seperti merokok, minum alkohol, inaktivitas, dan obesitas.

2. Prevensi primer. Upaya ini bertujuan untuk menurunkan angka kejadian stroke dengan mencari dan mengobati individu yang mempunyai faktor risiko tinggi terserang stroke, antara lain hipertensi, diabetes melitus, dan penyakit jantung.

3. Prevensi sekunder, untuk mencegah serangan ulang pada penderita yang pernah mengalami serangan stroke atau TIA (transient ischemic attack). Upaya ini diha-rapkan dapat menurunkan angka kekambuhan (rekurensi).

4. Terapi stroke fase akut. Upaya ini bertujuan untuk menurunkan angka kematian dan kecacatan pada penderita yang mengalami serangan stroke untuk pertama kalinya maupun serangan ulang.

5. Rehabilitasi. Di samping keempat komponen di atas, tidak kalah pentingnya adalah usaha meningkatkan kemandirian penderita melalui upaya rehabi-litasi.

Faktor Risiko Stroke

Dengan memahami faktor risiko stroke, kita dapat memperkirakan berbagai hal yang dapat mempermudah terjadinya serangan stroke. Beberapa faktor risiko, yaitu umur, jenis kelamin, faktor herediter (familial), ras (etnik), geografi, dan iklim, memang tidak bisa diubah. Akan tetapi faktor risiko lainnya mungkin bisa diubah. Dengan demikian, konsep ini sangat bermanfaat dalam strategi penanggulangan stroke yang meliputi upaya penurunan angka kejadian, kecacatan, dan kematian akibat stroke.